Permasalahan Diabetes dan Dampaknya pada Kesehatan Penglihatan
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan bahwa masalah diabetes memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi diabetes mencapai hampir 30 persen, yang berarti sekitar 65 juta masyarakat Indonesia terindikasi mengidap diabetes melitus. Namun, saat ini hanya sekitar 10 juta pasien yang telah terdeteksi.
Dalam upaya meningkatkan deteksi dini, pemerintah telah menjalankan program cek kesehatan gratis sejak awal 2024 hingga November 2025. Program ini berhasil menemukan 5 hingga 7,5 juta kasus baru diabetes. Meskipun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan alat serta kemampuan tenaga kesehatan.
Salah satu komplikasi dari diabetes adalah Retinopati Diabetik (RD), yaitu penyakit yang merusak pembuluh darah di retina mata. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kebutaan. Oleh karena itu, Siti Nadia mengajak masyarakat, terutama pasien diabetes, untuk melakukan skrining RD secara rutin.
“Kami ingin memastikan bahwa skrining RD tidak hanya bergantung pada ketersediaan dokter spesialis, tetapi bisa dilakukan secara masif di layanan primer dengan dukungan teknologi yang tepat dan alur rujukan yang jelas,” ujar Nadia.
Kerja Sama untuk Penanganan Komprehensif Retinopati Diabetik
Sebelum memperingati Hari Diabetes Sedunia, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk percontohan penanganan komprehensif Retinopati Diabetik. Kerja sama ini didukung oleh Kementerian Kesehatan dan menjadi wujud komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan RD di Indonesia.
“FK-KMK UGM dengan dukungan dari Roche Indonesia dapat menghadirkan pendekatan baru. Kami berharap bahwa metode skrining RD berbasis digital tele-oftalmologi dengan pemanfaatan AI ini dapat menjadi bukti ilmiah yang kedepannya dapat kita terjemahkan menjadi kebijakan nasional,” kata Nadia.

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dan Roche menandatangani Perjanjian Kerja Sama untuk percontohan penanganan komprehensif Retinopati Diabetik/Roche
Solusi Inovatif untuk Mengatasi Masalah Kesehatan Mata
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM Danang Sri Hadmoko menyatakan bahwa masalah kesehatan masyarakat seperti Retinopati Diabetik membutuhkan solusi berbasis bukti yang inovatif dan aplikatif. “Melalui kemitraan ini, kami siap berkontribusi melalui keahlian FK-KMK UGM dalam mengembangkan model layanan, melakukan kajian implementasi, dan memastikan bahwa intervensi yang dilakukan, terutama di bidang tele-oftalmologi serta tatalaksana Retinopati Diabetik sesuai standar medis terkini, dapat berjalan efektif dan berkelanjutan di sistem layanan kesehatan kita,” katanya.
Presiden Direktur Roche Indonesia Sanaa Sayagh menekankan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan penglihatan masyarakat Indonesia. “Kami berharap luaran dari kemitraan ini juga bisa berkontribusi dalam upaya percepatan transformasi kesehatan serta pencapaian target Peta Jalan Kesehatan Penglihatan 2025 – 2030,” ujarnya.
Data dan Target Peta Jalan Kesehatan Penglihatan
Retinopati Diabetik (RD) merupakan penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia. Dua dari lima atau sekitar 43,1 persen orang dewasa dengan Diabetes Mellitus tipe 2 mengalami kondisi ini. Lebih lanjut, data penelitian global menunjukkan bahwa sekitar 29 persen pasien dengan Retinopati Diabetik juga mengalami Diabetic Macular Edema (DME), yaitu bentuk komplikasi retina lanjutan dari RD yang menyebabkan pembengkakan pada makula dan menjadi salah satu penyebab utama kebutaan akibat diabetes.
Menyadari besarnya dampak RD, Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan Indonesia Tahun 2025 – 2030 yang baru diluncurkan menetapkan beberapa target kunci untuk mengatasi permasalahan ini. Target tersebut mencakup skrining retina pada setidaknya 80 persen individu dengan diabetes, serta pemberian pengobatan yang tepat kepada minimal 80 persen individu dengan RD. Pemanfaatan teknologi kesehatan digital dan tele-oftalmologi menjadi strategi penting untuk meningkatkan deteksi dini kasus Retinopati Diabetik maupun Diabetic Macular Edema.






