Pentingnya Koneksi Belajar di Dunia Internasional
Rektor Binus University, Nelly, menekankan pentingnya mahasiswa untuk membangun jaringan belajar yang melibatkan dunia internasional. Ia berharap kegiatan ini bisa memberikan inspirasi baik bagi diri sendiri maupun bagi mahasiswa asing. “Binus Asia Collaboration adalah langkah nyata kami dalam membangun ekosistem pembelajaran tanpa batas. Kami ingin setiap Binusian memiliki peluang untuk connect, discover, and learn belajar lintas negara dan menjadi bagian dari komunitas global yang saling menginspirasi,” ujar Nelly dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada awal November 2025.
Di era globalisasi dan transformasi digital, kemampuan untuk beradaptasi dan berkolaborasi lintas negara menjadi kunci kesuksesan bagi generasi muda. Dunia kerja kini menuntut talenta yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki global mindset, pemahaman lintas budaya, dan pengalaman internasional yang relevan. Kebutuhan ini semakin mendesak seiring meningkatnya mobilitas pendidikan dan profesional di kawasan Asia.
Program Binus Asia Collaboration
Nelly menjelaskan bahwa salah satu cara mahasiswa dapat lebih banyak berkolaborasi dengan masyarakat dunia adalah melalui program Binus Asia Collaboration. Program ini membuka kesempatan bagi seluruh tim untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan diri di berbagai negara Asia seperti Mainland China, Taiwan, Jepang, dan Korea. Melalui berbagai kegiatan seperti Study Abroad (sekolah di luar negeri), China Business Trip (Trip perjalanan dinas ke China), Overseas Internship (Magang Internasional), hingga International Access & Networking, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar langsung di lingkungan internasional.
Program ini juga didukung oleh lebih dari 250+ universitas mitra di 40 negara serta 2.200+ perusahaan global yang menjadi bagian dari jaringan kolaborasi Binus.
Pengalaman Mahasiswa dalam Program
Salah satu peserta program Binus Asia Collaboration adalah Catherine Wijaya. Mahasiswa yang studinya berfokus pada Japanese Popular Culture (JPC) ini membagikan pengalamannya saat mengikuti internship di Jepang. “JPC Binus melalui mata kuliah yang ditawarkan sangat membantu selama saya internship di Jepang. Latihan yang diberikan oleh dosen, materi yang disediakan selama proses pembelajaran menjadi pengalaman berharga yang bisa menunjang pekerjaan di industri, khususnya industri yang berkaitan dengan negara Jepang. Menurut saya, pengalaman internship ini sangat membantu untuk mendapatkan dan menjalani pekerjaan di masa depan,” ujar Catherine yang menjalani internship di Suginoi Hotel, Jepang.
Sementara itu, Kathleen Kaymora Amayatama, mahasiswa jurusan Global Business Chinese, tengah menjalani studi selama satu semester di Shandong University of Science and Technology (SDUST), China. Menurut Kathleen, sehari-hari ia ikut kelas bahasa dan budaya, latihan percakapan langsung dengan mahasiswa lokal, dan ikut kegiatan kampus. Hal itu membuatnya lebih mengenal kehidupan mahasiswa di China. “Rasanya seperti belajar bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di jalanan, kantin, bahkan saat ngobrol santai dengan teman-teman. Peran saya sebagai mahasiswa pertukaran bukan hanya mengikuti kelas dengan serius, tapi juga menjadi representasi mahasiswa Binus di luar negeri. Pengalaman ini mengajarkan pentingnya adaptasi, membangun koneksi lintas negara, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Semua hal ini menjadi investasi besar untuk masa depan karier saya,” ujar Kathleen.
Visi Binus 2035
Nelly menjelaskan bahwa inisiatif ini menjadi langkah nyata timnya dalam mewujudkan visi Binus 2035 yaitu Fostering and Empowering Society in Building and Serving the Nation melahirkan generasi muda Indonesia yang siap bersaing, berkolaborasi, dan berkontribusi di tingkat global. Melalui pengalaman langsung di industri global, mahasiswa tidak hanya mengasah keterampilan profesional, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kesiapan untuk bersaing di dunia kerja internasional.






