Alasan Banyak Pasien Kanker Payudara Datang ke Dokter di Tahap Lanjut

News197 Dilihat

Tantangan Deteksi Dini Kanker Payudara di Indonesia

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan bahwa pasien kanker payudara tidak hanya menghadapi tantangan medis, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi. “Biaya pengobatan yang tinggi, hilangnya produktivitas, serta dampak psikologis dialami pasien dan keluarga,” ujarnya dalam konferensi pers pada 28 Oktober 2025 di Jakarta.

Pemerintah terus berupaya memperkuat deteksi dini kanker payudara. Namun, upaya ini masih menghadapi berbagai tantangan. “Penyebab kematian pasien kanker payudara sebagian besar karena datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga tingkat keberhasilan pengobatan menurun,” kata Siti Nadia.

Menurutnya, kanker pada pasien sering ditemukan dalam kondisi lanjut bukan hanya karena kurangnya deteksi dini. “Tapi karena pasien ‘jalan-jalan’ dulu,” tambah Siti Nadia. Banyak pasien lebih memilih untuk mencoba pengobatan alternatif terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengunjungi puskesmas. “Bukannya langsung ke dokter, tapi ke pengobatan alternatif dulu. Padahal di stadium lanjut, tidak semua obat bisa ditanggung BPJS,” ujar Siti Nadia dengan rasa prihatin.

Ia pun mengingatkan bahwa pemeriksaan kanker payudara sudah termasuk dalam Cek Kesehatan Gratis yang ditanggung pemerintah. Selain itu, pemerintah mendorong agar pemeriksaan kanker payudara dilakukan secara bersamaan dengan medical check-up. “Makanya kami dorong ketersediaan mammografi di berbagai layanan kesehatan,” katanya.

Mammografi adalah pemeriksaan pencitraan medis yang menggunakan sinar-X untuk mengambil gambar jaringan payudara guna mendeteksi kelainan seperti kanker payudara sejak dini. Saat ini, baru ada sekitar 200 rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan mammografi di Indonesia. Layanan Mammografi masih tergolong mahal, namun bila disediakan di banyak kota, maka akses masyarakat pun akan lebih mudah sehingga harga layanan ini pun bisa ditekan. Selain mammografi, Ultrasonografi alias USG juga menjadi alat skrining deteksi kanker payudara. “Target kami yaitu menambah USG payudara di Puskesmas,” kata Siti Nadia.

Faktor Penghambat Deteksi Dini

Alasan lain deteksi dini kanker payudara sulit dilakukan di Indonesia adalah karena masih banyaknya masyarakat yang takut melakukan skrining. “Dari sekian puluh juta yang menjalani CKG, jumlah perempuan sekitar 20 juta orang. Dari 20 juta itu, yang mau skrining payudara hanya 300 ribu orang saja,” katanya.

Siti Nadia menjelaskan bahwa biasanya perempuan takut dan enggan karena payudara dianggap sebagai organ intim. Banyak yang enggan payudara diperiksa secara SADARNIS atau USG. Kedua, karena tidak ada keluhan, mereka enggan payudara diraba-raba. Ketiga, selain takut, ada pula perempuan yang merasa lebih baik tidak tahu daripada masalah itu menjadi pikiran. “Keempat, sebagian perempuan harus izin dulu ke suami atau keluarga untuk periksa payudara,” katanya.

Tingkat Kanker di Indonesia

Di Indonesia ada sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus. Jumlah kasus kanker di Indonesia terus meningkat dan diprediksi melonjak hingga lebih dari 70 persen pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Tanpa intervensi yang efektif, beban kanker akan semakin besar, baik dari segi kesehatan masyarakat maupun ekonomi.

Kepala Departemen Medical Check Up MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Agnes, menyampaikan bahwa kanker payudara sering terdeteksi secara ‘tidak sengaja’ saat pasien menjalani medical check-up. “Bahkan banyak yang terdeteksi saat sudah stadium lanjut karena tidak ada gejala yang dirasakan pasien. Penemuan kanker payudara di stadium lanjut ini bisa dihindari andai saja pasien rutin melakukan SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri secara rutin. Atau pasien melakukan mammografi setahun sekali setelah mencapai usia 40 tahun,” kata Agnes.

Kepala Departemen Radiologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Nina I.S.H. Supit, menambahkan bahwa mammografi masih menjadi gold standard dalam skrining kanker payudara. Mammografi dapat mendeteksi benjolan tumor kanker payudara di ukuran sangat kecil, sampai 0,2 milimeter dengan alat terbaru. “Tantangan dalam mammografi atau deteksi dini kanker payudara ini, selain akses terhadap mammografi yang masih terbatas, juga ada banyak sekali mitos yang masih dipercaya masyarakat. Misalnya mammografi itu sangat menyakitkan, mammografi bisa membuat kanker malah menyebar, dan sebagainya. Namun saat ini sudah ada solusi mammografi yang lebih nyaman dan singkat, tanpa mengorbankan kualitas gambar yaitu Mammomat B.brilliant di MRCCC,” ungkap Nina. “Kita harus terus berikan edukasi kepada masyarakat bahwa dengan skrining menggunakan USG payudara untuk perempuan usia di bawah 40 tahun dan mammografi mulai usia 40 tahun dapat mencegah kejadian kanker payudara stadium lanjut yang sangat sulit diterapi dan memiliki beban pengobatan tidak murah,” kata Nina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *