Faktor Risiko Kanker Payudara yang Sering Terabaikan

News227 Dilihat

Kanker Payudara: Penyebab, Faktor Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 2,3 juta wanita di seluruh dunia didiagnosis menderita kanker payudara setiap tahun. Penyakit ini juga menyebabkan sebanyak 670 ribu kematian secara global. Kanker payudara dapat terjadi pada wanita di berbagai negara, baik pada usia muda maupun lanjut, meskipun tingkat kejadian cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Berdasarkan data Globocan 2022, kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling umum dengan jumlah kasus baru mencapai 16,2 persen dari total kanker yang terjadi pada semua jenis kelamin. Di Indonesia, kanker payudara menyumbang 30,1 persen dari seluruh kasus kanker pada wanita.

Menurut Dokter Spesialis Bedah, Subspesialis Onkologi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Ivan Rinaldy, banyak pasien datang saat stadium sudah lanjut karena mengabaikan perubahan kecil di payudara. Ia menegaskan bahwa jika kanker ditemukan lebih awal, pengobatan bisa lebih sederhana dan hasilnya jauh lebih baik.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Payudara

Kanker payudara berasal dari epitel duktus dan lobulus dalam jaringan kelenjar payudara. Meskipun penyebab pasti belum diketahui, beberapa faktor risiko dapat memicu terjadinya kanker ini. Ivan menjelaskan bahwa kanker payudara bisa menyerang siapa saja, namun risikonya meningkat jika seseorang memiliki faktor-faktor berikut:

  • Usia di atas 40 tahun
  • Belum pernah hamil atau melahirkan di usia lanjut
  • Tidak menyusui atau menyusui dalam waktu singkat
  • Menstruasi terlalu dini atau menopause terlambat
  • Penggunaan obat hormonal tanpa pengawasan dokter
  • Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker ovarium
  • Pernah menjalani operasi tumor atau radiasi dada di usia muda
  • Kelebihan berat badan dan kurang olahraga
  • Konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok

Tanda-Tanda yang Harus Diwaspadai

Ivan mengingatkan masyarakat untuk waspada jika muncul benjolan padat dan keras di payudara. Selain itu, perubahan bentuk atau posisi puting payudara juga patut diwaspadai. Perempuan tidak boleh abai jika keluar darah dari puting, kulit tampak seperti kulit jeruk (peau d’orange), atau ada benjolan di ketiak.

Dua Langkah Penting untuk Deteksi Dini

Deteksi dini merupakan langkah pencegahan terbaik terhadap kanker payudara. Ivan menjelaskan dua cara utama untuk melakukan deteksi dini, yaitu SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara oleh Tenaga Medis).

SADARI dapat dilakukan oleh wanita usia di atas 20 tahun. Bagi yang masih haid, lakukan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid. Sedangkan bagi wanita yang sudah menopause, Ivan menyarankan agar pemeriksaan ini dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan. Amati bentuk payudara di depan cermin, lalu raba seluruh bagian payudara dan ketiak untuk memastikan tidak ada benjolan atau perubahan.

SADANIS adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga medis atau dokter untuk memeriksa adanya kelainan. Jika ditemukan indikasi mencurigakan, dokter dapat melanjutkan pemeriksaan dengan USG payudara atau mammografi. Bagi wanita usia di atas 15 tahun, pemeriksaan klinis ini dianjurkan dilakukan setiap 2–3 tahun sekali agar deteksi dini dapat dilakukan sebelum kanker mencapai stadium lanjut.

Terapi yang Tersedia

Ivan menjelaskan bahwa terapi penanganan kanker payudara tergantung pada stadium dan kondisi pasien. Beberapa pilihan terapi yang tersedia antara lain pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi target, hingga imunoterapi. Setiap pasien akan mendapatkan rencana pengobatan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *