Lari: Olahraga yang Menarik Minat Generasi Produktif
Lari telah menjadi salah satu olahraga yang sangat diminati oleh generasi produktif. Tidak hanya mudah dilakukan kapan saja dan di mana saja, lari juga menawarkan berbagai manfaat kesehatan, seperti meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, mengendalikan berat badan, serta memperbaiki tidur dan suasana hati. Dalam riset konsumer dari brand olahraga global New Balance, 70 persen Gen Z dan Milenial di seluruh dunia berlari minimal sekali dalam seminggu dengan intensitas dan tujuan yang berbeda-beda.
Sebanyak 20 persen dari mereka memiliki tujuan latihan spesifik, seperti mencapai target jarak atau waktu, sementara 50 persen lainnya melakukannya untuk tujuan kesehatan secara umum. Fenomena ini membawa munculnya banyak mitos seputar lari, mulai dari anggapan bahwa lari itu mahal hingga rasa FOMO (fear of missing out). Berikut empat mitos terkait lari yang sering terdengar.
Mitos 1: Lari Itu Mahal
Banyak orang mengira lari adalah olahraga yang mahal karena membutuhkan sepatu, pakaian, dan partisipasi dalam event olahraga. Namun, faktanya, lari merupakan olahraga yang lebih minim peralatan dibandingkan olahraga lainnya. Orang bisa berlari di ruang publik seperti taman-taman terbuka, jalanan perumahan, atau area car free day yang gratis.
Sepatu lari tidak harus mahal. Bagi pemula, satu sepatu lari multifungsi sudah cukup untuk berbagai jenis latihan, seperti easy run, interval, dan tempo. Secara teori, sepatu lari rata-rata bisa digunakan hingga 480-800 kilometer, tergantung pada penyimpanan dan penggunaannya.
Daniel Mananta, selebritas yang menekuni olahraga lari, menjelaskan bahwa mahal atau murahnya lari bisa diatur. Pastikan semua pengeluaran memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat yang terasa. Jangan sampai terpengaruh oleh social pressure.
“Contoh, kalau kamu tipe yang tidak bisa latihan sendiri, lebih baik uangnya dialokasikan untuk hire coach sampai kamu bisa mandiri, dibandingkan spending untuk gear yang dipakai atlet elite,” kata dia dalam keterangan pers New Balance, Selasa, 7 Oktober 2025.
Mitos 2: Tidak Bisa Lari
Pelari tidak perlu menempuh jarak jauh, berlari cepat, atau memiliki kemampuan tertentu agar disebut pelari. Setiap orang yang lari bisa disebut pelari. Lari merupakan olahraga inklusif secara gender dan usia. Adapun intensitas dan jarak lari bisa fleksibel disesuaikan untuk setiap orang.
Daniel menjelaskan bahwa jika mengalami reaksi tubuh seperti lemas, pusing, atau nyeri otot saat pertama kali lari, itu hal wajar karena tubuh sedang beradaptasi. “Bagi yang baru mulai, mindset-nya jangan dulu fokus di jarak dan pace, fokus di membangun kebiasaan dulu dengan berlari 1-2 kali seminggu, baru pelan-pelan perhatikan form lari,” ujar pelari maraton itu.
Mitos 3: Lari Itu FOMO
Banyak orang disebut pelari FOMO karena ikut-ikutan tren lari. Namun, lari karena FOMO tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Meskipun memulai lari karena ikut-ikutan, tubuh tetap mendapat manfaat kesehatan yang baik.
Tirta Mandira Hudhi, yang dikenal dengan sebutan dr Tirta, mengatakan menjadi pelari rekreasional yang berlari seminggu sekali saja manfaatnya sudah banyak. Selain kardiovaskular, di aspek metabolik dapat melancarkan sirkulasi gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Sementara di aspek muskoskeletal, dapat memperkuat otot, sendi, dan tulang, serta mengurangi risiko penyakit osteoporosis.
“Harapannya kan, dari FOMO sekali, lama-lama bisa konsisten jadi gaya hidup, dan perilaku ini harus kita dukung bukan di-judge,” kata dia.
Mitos 4: Lari Mengejar Pace
Banyak pelari merasa minder dengan pace yang lambat. Padahal, indikator keberhasilan lari bukan hanya soal pace. Banyak indikator lain yang bisa dimonitor sebagai kemajuan, seperti heart rate yang semakin stabil, angka Vo2 (kemampuan tubuh menyerap oksigen) yang semakin besar, jarak yang semakin panjang, durasi yang semakin lama, bahkan waktu recovery yang semakin singkat.
Tirta menceritakan pengalamannya sebelum mengikuti ajang maraton di Berlin. Tiga bulan sebelumnya, dia seorang virgin marathon atau pemula di Jakarta. Dia finis lima jam. “Tapi dengan latihan konsisten, di Berlin saya bisa pecahkan personal best,” kata dia.
Jadi, menurut Tirta, setiap orang bisa lari dengan caranya sendiri. Tak perlu berlari jauh atau cepat, yang terpenting memulai dan menikmati prosesnya.






