Program Vaksinasi DBD untuk Anak Sekolah Dasar di Jakarta Selatan
Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memberikan vaksin demam berdarah dengue (DBD) kepada anak-anak yang berada di bangku sekolah dasar di kawasan Jakarta Selatan. Ketua Program Vaksinasi Nasional Sri Rezeki Hadinegoro menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pencegahan penting karena anak-anak di usia tersebut rentan mengalami kasus DBD, sehingga banyak dari mereka harus dirawat. Setelah vaksin diberikan, pemantauan dilakukan secara teratur.
“Pemantauan sangat penting. Meskipun vaksin sudah disetujui oleh BPOM, tetap perlu dipantau, terutama dalam hal keamanan dan efektivitas agar anak-anak tetap sehat dan bisa berdaya guna di masa depan,” ujarnya dalam konferensi pers awal Oktober 2025 di Jakarta.
Sri Rezeki menambahkan bahwa program vaksinasi ini adalah bagian dari langkah pengendalian DBD di tengah masyarakat. Meski pemerintah telah memiliki enam strategi utama dalam penanganannya, ia menilai masih dibutuhkan strategi lain dengan pendekatan inovatif.
Saat ini, sebanyak 30 ribu anak di tiga kota Indonesia menjalani pemantauan aktif selama tiga tahun. Tiga kota tersebut yaitu Jakarta Selatan dengan 15 ribu anak, di mana 10 ribu di antaranya sudah divaksinasi. Pemantauan juga dilakukan di Palembang dengan total 7,7 ribu anak, di mana 5 ribu di antaranya sudah divaksinasi. Sementara itu, ada 7,5 ribu anak di Banjarmasih, di mana 5 ribu di antaranya sudah mendapatkan vaksin.
Jangkauan vaksinasi saat ini masih dalam tahap pemantauan di beberapa daerah karena upaya pengendalian dengue yang sudah ada, seperti 3M Plus dan Wolbachia, masih dianggap sebagai pilar utama. Vaksinasi dengue dan pemantauan aktif ini diyakini akan memperkuat perlindungan masyarakat, serta membantu Indonesia semakin siap menghadapi tantangan penyakit menular di masa depan.
Angka Kasus DBD yang Masih Tinggi
Kasus demam berdarah dengue masih menjadi masalah besar bagi masyarakat tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh dunia. Penyakit ini membuat banyak orang sakit parah dan memberi beban ekonomi. Di Indonesia, hingga tanggal 22 Oktober 2025, tercatat 115.138 kasus DBD dengan 479 orang meninggal dunia. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ovi Norfiana menambahkan bahwa hingga waktu yang sama, DKI Jakarta mencatat jumlah kasus dengue sebanyak 7.274 kasus dengan 12 kematian. Karena tingginya kasus ini, terutama di Pulau Jawa yang padat penduduk, pemerintah harus punya cara penanggulangan yang lebih kuat.
DBD disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Banyak orang berpikir DBD hanya muncul saat musim hujan, tapi bahayanya ada sepanjang tahun. Sri Rezeki mengingatkan agar masyarakat selalu waspada. “Setiap keluarga berisiko terpapar. Pencegahan sangat penting, sama pentingnya adalah memastikan bahwa setiap intervensi yang dijalankan benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” katanya.
Pendekatan Terintegrasi dalam Pengendalian DBD
Pengendalian DBD perlu cara baru yang terintegrasi, yaitu dengan intervensi pada nyamuk (vektor) dan juga pada manusianya. Di Jakarta Barat, sudah dilakukan uji coba teknologi Wolbachia untuk memutus rantai penularan virus. Selain itu, pemerintah daerah kini mulai memakai vaksinasi dengue sebagai cara pencegahan tambahan.
Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Fadjar Surya Mensing Silalahi menjelaskan bahwa Kemenkes telah menetapkan Enam Strategi Nasional Penanggulangan Dengue untuk periode 2021 hingga 2025. “Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang terdiri dari enam strategi, yaitu pengendalian vektor nyamuk, surveilans atau pemantauan kasus secara real time, manajemen kasus yang efektif, pemberdayaan masyarakat, serta komitmen pemerintah. Selain itu, Kemenkes juga berfokus pada inovasi, invensi, dan riset, khususnya dalam pengembangan vaksin dan penerapan teknologi wolbachia untuk penanggulangan dengue,” kata Fadjar.
Target Sasaran dan Lokasi Vaksinasi
Pemerintah memberi vaksin merek “Qdenga” dengan target sasaran utama anak-anak kelas 3 dan 4 SD, sebagai salah satu bentuk pemantauan aktif vaksinasi dengue di DKI Jakarta, khususnya Jakarta Selatan. Diharapkan hal itu dapat menekan angka perawatan di rumah sakit. Masing-masing anak akan mendapat vaksin sebanyak dua dosis, dengan rentang jarak pemberian tiga bulan.
Pemberian vaksin akan melibatkan sebanyak 9 puskesmas di wilayah itu dan 106 sekolah menjadi target sasaran vaksinasi. Sembilan puskesmas itu yakni Puskesmas Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pesanggrahan, Setiabudi dan Tebet.
Ada 10 rumah sakit yang nantinya terlibat dalam melakukan pemantauan kesehatan anak-anak yang mendapatkan vaksin, yakni RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUD Tebet, RSUD Pasar Minggu, RSUD Budhi Asih, RS Hermina Jatinegara, RSUD Kebayoran Baru, RSUD Jagakarsa, RSUD Kebayoran Lama, RSUD Pesanggrahan dan RSUD Mampang Prapatan.
Keamanan dan Efektivitas Vaksin
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nina Dwi Putri menambahkan bahwa 20 ribu vaksin yang tersedia merupakan hibah dari Takeda Vaccines Inc.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menekankan bahwa kolaborasi ini tidak hanya menjadi wujud nyata peran akademisi dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan semangat kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang relevan dan berkelanjutan di tengah tantangan penyakit menular seperti dengue.
Vaksin yang akan digunakan telah lulus kualifikasi dari BPOM, menjamin keamanannya. Efek samping yang mungkin timbul serupa dengan vaksinasi pada umumnya, seperti rasa mudah lelah dan nyeri ringan di area suntikan, dan bersifat jangka pendek. Ia menyarankan bahwa vaksinasi ini adalah peran penting dan merupakan investasi besar untuk mempersiapkan perlindungan dari penyakit ini. “Vaksinasi ini adalah peran penting dan merupakan investasi besar untuk mempersiapkan perlindungan dari penyakit ini,” katanya.






